Tuesday, 03 March 2026
Login
Edu Kabar Menu
Navigasi
Kategori

Bangsa Ini Pernah Dijaga oleh Doa, Sekarang Diuji oleh Kekuasaan

Penulis Muhammad Ikhsan
Tanggal 11 Feb 2026
16 Views
Bangsa Ini Pernah Dijaga oleh Doa, Sekarang Diuji oleh Kekuasaan

Dalam sejarah Islam, ulama bukan sekadar pengajar kitab. Mereka adalah penjaga nurani kekuasaan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah dipenjara, disiksa, dan diancam nyawanya, hanya karena menolak tunduk pada kehendak penguasa yang ingin menjadikan kebenaran sebagai alat politik.

Beliau tidak melawan dengan senjata, tetapi dengan keteguhan iman dan kejujuran ilmu.

Imam Nawawi menolak hadiah dan jabatan dari penguasa Damaskus. Bukan karena sombong, melainkan karena takut ilmunya kehilangan keberkahan saat terlalu dekat dengan kekuasaan.

Di Nusantara, para ulama memimpin perlawanan bukan dengan ambisi kekuasaan, melainkan dengan doa, fatwa, dan keberanian moral.Mereka berdiri di hadapan penjajah dan penguasa zalim dengan satu keyakinan: kebenaran tidak boleh tunduk pada siapa pun selain kepada Tuhan.

Bangsa ini pun lahir dari semangat yang sama. Ia tidak tumbuh dari strategi licik,
melainkan dari doa orang-orang saleh
yang namanya sering tidak tercatat dalam buku sejarah.

Namun zaman berubah. Bangsa ini tidak runtuh karena kurang doa. Ia mulai goyah ketika doa tidak lagi ditakuti oleh kekuasaan.

Ada masa ketika pemimpin gemetar
mendengar nasihat ulama. Bukan karena suara mereka keras, melainkan karena kebenaran selalu memiliki wibawa.

Hari ini, nasihat sering hanya menjadi pembuka acara. Didengar, dicatat, lalu dilupakan begitu kekuasaan mulai berbicara.

Kita hidup di negeri yang gemar berbicara tentang moral, namun sering alergi pada kejujuran.Agama ramai di panggung, tetapi sunyi ketika keputusan diambil.

Masjid penuh. Simbol keimanan bertebaran. Ayat dan hadis dikutip dengan fasih.

Namun sejak kapan agama berhenti di mimbar dan tidak turun ke meja kebijakan?

Kekuasaan yang seharusnya melindungi, terlalu sering berubah menjadi alat pembenaran.
Hukum tidak lagi ditimbang dengan keadilan, melainkan dengan kepentingan.

Yang kuat mencari celah. Yang lemah belajar bertahan. Dan yang tahu mana benar dan salah, sering memilih diam demi rasa aman.

Sejarah selalu jujur pada satu hal:
bangsa runtuh bukan karena kurang orang pintar, tetapi karena hilangnya rasa takut kepada Tuhan.

Ketika penguasa merasa kebal, nurani menjadi beban. Ketika jabatan terasa aman, keadilan mulai bisa dinegosiasikan.

Semua ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan,
dibenarkan sedikit demi sedikit,
hingga akhirnya terasa biasa.

Padahal doa orang-orang kecil tidak pernah kehilangan daya. Yang kehilangan daya hanyalah mereka yang mengira kekuasaan bisa menggantikan Tuhan.

Mungkin negeri ini belum runtuh.
Ia hanya sedang diuji. Diuji apakah kekuasaan masih mau mendengar suara ulama yang jujur. Diuji apakah agama masih menjadi kompas, bukan sekadar hiasan. Diuji apakah kita masih percaya bahwa doa lebih kuat daripada intrik.

Sejarah tidak menuntut kesempurnaan.
Ia hanya meminta agar kita belajar. Belajar bahwa negeri ini tidak diwariskan oleh orang-orang rakus, melainkan oleh mereka yang menangis dalam sujud panjang.

Dan selama masih ada ulama yang berani lurus, pemimpin yang mau tunduk pada kebenaran, dan rakyat yang tidak menjual nurani, doa itu belum berhenti bekerja. Sejarah hanya sedang menunggu, siapa yang layak melanjutkannya.

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tinggalkan Komentar