Neurok - Ada satu hal yang sering kita lupa dalam hiruk-pikuk kehidupan: bahwa kita semua sedang berjalan menuju sebuah titik akhir yang sama. Kita sibuk merancang hari esok, mengejar mimpi, memperbaiki hidup, namun jarang benar-benar berhenti untuk merenung-bagaimana jika hari esok itu tidak pernah datang?
Andai satu hari nanti aku pergi meninggalkan dunia ini, aku ingin kata-kata ini sampai kepada kamu-yang pernah hadir, yang pernah singgah, yang pernah mengisi ruang dalam perjalanan hidupku.
Aku sadar, aku bukan manusia yang sempurna. Dalam langkah-langkah yang aku tempuh, pasti ada jejak yang tidak selalu indah. Ada kata yang mungkin melukai, ada sikap yang mungkin mengecewakan, ada diam yang mungkin disalahartikan. Aku mungkin pernah gagal menjadi sosok yang kamu harapkan-seorang teman yang selalu mengerti, seorang saudara yang selalu hadir, atau seseorang yang selalu mampu menjaga hati.
Namun percayalah, tidak pernah sekalipun aku berniat menyakiti. Aku hanyalah manusia biasa-yang belajar dari salah, yang jatuh dalam kelemahan, yang terkadang kalah oleh emosi dan keadaan. Dalam diam, aku juga terluka. Dalam tawa, mungkin ada luka yang aku sembunyikan.
Jika sepanjang hidupku ada luka yang tertinggal di hatimu, aku memohon dengan segala kerendahan hati-maafkan aku. Maafkan segala khilaf yang mungkin tidak sempat aku perbaiki. Maafkan aku, bahkan dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Karena pada akhirnya, ketika waktu memanggilku pulang, aku tidak akan membawa apa-apa. Tidak harta, tidak nama, tidak juga ego yang selama ini kita pertahankan. Yang tersisa hanyalah amal dan doa. Dan mungkin-jika Allah berkehendak-maaf dari hati-hati yang pernah aku sakiti.
Jika aku telah tiada nanti, jangan tangisi kepergianku. Air mata tidak akan sampai kepadaku. Yang aku butuhkan bukanlah ratapan, melainkan doa yang tulus. Doakan agar aku diberi ketenangan di sana. Doakan agar segala dosa-dosaku diampuni. Doakan agar langkahku di alam berikutnya dimudahkan.
Ingatlah aku bukan dengan kesedihan, tapi dengan kenangan yang baik. Simpanlah hal-hal indah yang pernah kita lalui. Tertawa yang pernah kita bagi, cerita yang pernah kita rajut, dan kebersamaan yang mungkin tak akan terulang.
Dan jika ada bagian dariku yang menyakitkan, lepaskanlah. Biarkan ia pergi bersama waktu. Karena di alam sana, aku tidak lagi mampu memperbaiki apa pun. Aku hanya bergantung pada kebaikan yang pernah aku lakukan—dan pada keikhlasan maaf yang kamu berikan.
Hidup ini singkat, terlalu singkat untuk dipenuhi dengan dendam dan luka. Maka sebelum semuanya benar-benar berakhir, mari kita belajar untuk saling memaafkan. Karena mungkin, suatu hari nanti, kita semua akan menjadi kenangan bagi orang lain.
Dan ketika saat itu tiba, semoga yang tersisa bukanlah penyesalan, melainkan doa-doa yang mengalir tanpa henti.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!