Edu Kabar — Bencana alam yang terjadi silih berganti di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari banjir, longsor, kekeringan, hingga cuaca ekstrem, bukan lagi sekadar peristiwa musiman. Fenomena ini menjadi tanda nyata bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Pertanyaannya, di manakah posisi manusia dalam persoalan ini? Apakah kita sekadar korban, atau justru bagian dari penyebabnya?
Dalam perspektif agama, khususnya Islam, lingkungan bukanlah sekadar ruang hidup, melainkan amanah Ilahi yang harus dijaga. Krisis lingkungan hari ini sejatinya adalah krisis moral dan spiritual manusia terhadap alam.
Bumi yang Mengeluh: Fakta Kerusakan Lingkungan
Data dan realitas di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan semakin mengkhawatirkan. Deforestasi, pencemaran air dan udara, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta perilaku konsumtif yang tak terkendali telah meninggalkan luka mendalam bagi bumi.
Di Aceh dan berbagai daerah lainnya, banjir dan longsor seringkali terjadi akibat hutan yang gundul dan daerah resapan air yang rusak. Sungai-sungai dipenuhi sampah, laut tercemar limbah, dan udara semakin sulit dihirup dengan lega. Semua ini bukan semata-mata “takdir alam”, melainkan buah dari ulah manusia.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan memiliki keterkaitan langsung dengan perilaku manusia yang melampaui batas.
Manusia sebagai Khalifah: Konsep Ekoteologi Islam
Islam menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). Konsep ini bukan simbol kekuasaan mutlak, melainkan mandat tanggung jawab. Manusia diberi akal dan kemampuan untuk mengelola bumi, bukan untuk merusaknya.
Ekoteologi Islam memandang alam sebagai:
-
Makhluk Allah yang bertasbih
-
Tanda kebesaran-Nya
-
Amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban
Rasulullah SAW bahkan memberikan teladan konkret dalam menjaga lingkungan. Dalam hadis disebutkan bahwa menanam pohon bernilai sedekah, bahkan ketika kiamat hampir tiba.
“Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka tanamlah.”
(HR. Ahmad)
Pesan ini sangat kuat: menjaga lingkungan adalah ibadah, bukan sekadar aktivitas sosial.
Gaya Hidup Manusia Modern dan Ancaman Ekologis
Salah satu akar krisis lingkungan adalah gaya hidup manusia modern yang serba instan dan konsumtif. Budaya membuang, penggunaan plastik berlebihan, eksploitasi energi fosil, serta minimnya kepedulian terhadap dampak lingkungan menjadi ancaman serius.
Ironisnya, banyak dari kita merasa jauh dari tanggung jawab, seolah-olah kerusakan alam adalah urusan pemerintah atau aktivis lingkungan semata. Padahal, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil.
Islam mengajarkan prinsip wasathiyah (keseimbangan) dan melarang sikap berlebihan:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini relevan dengan perilaku konsumsi manusia hari ini yang sering melampaui kebutuhan.
Pendidikan Lingkungan: Jalan Kesadaran Jangka Panjang
Pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis. Sekolah, dayah, dan lembaga pendidikan Islam memiliki peluang besar untuk menanamkan nilai cinta lingkungan sejak dini.
Pembelajaran tidak cukup berhenti pada teori, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata, seperti:
-
Program kebersihan dan pengelolaan sampah
-
Gerakan menanam pohon
-
Pembiasaan hidup sederhana
-
Integrasi nilai lingkungan dalam pelajaran agama
Ketika santri dan siswa memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman, maka kesadaran itu akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan.
Lingkungan, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial
Krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari krisis keimanan. Hubungan manusia dengan alam mencerminkan hubungannya dengan Sang Pencipta. Semakin jauh manusia dari nilai spiritual, semakin besar kecenderungannya untuk merusak.
Rasulullah SAW bersabda:
“Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang…”
(HR. Muslim)
Menjaga kebersihan, tidak merusak alam, dan berbuat baik kepada makhluk hidup adalah bagian dari cabang-cabang iman tersebut.
Oleh karena itu, gerakan penyelamatan lingkungan harus dilihat sebagai gerakan moral dan spiritual, bukan hanya agenda ekologis.
Dari Kesadaran ke Aksi Nyata
Kesadaran tanpa aksi hanya akan menjadi wacana. Saat ini, bumi membutuhkan langkah nyata dari manusia, sekecil apa pun itu. Mengurangi sampah, menanam pohon, menghemat air dan listrik, serta mendidik generasi muda agar peduli lingkungan adalah langkah-langkah sederhana namun bermakna.
Komunitas, lembaga pendidikan, dan media seperti Edu Kabar memiliki peran penting dalam menyuarakan isu lingkungan secara berkelanjutan. Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembentuk kesadaran publik.
Penutup: Menjaga Bumi, Menjaga Masa Depan
Bumi bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan untuk generasi mendatang. Jika hari ini kita abai, maka anak cucu kitalah yang akan menanggung akibatnya.
Islam telah memberikan panduan yang jelas: menjaga lingkungan adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Kini, pilihan ada di tangan manusia—menjadi khalifah yang bertanggung jawab atau justru menjadi perusak bumi.
Semoga kesadaran ini tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjelma menjadi aksi nyata demi bumi yang lestari dan masa depan yang berkeadilan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!